« Sebelumnya: Lomba Artikel Pajak dan Cerdas Cermat Perpajakan   Selanjutnya: LOMBA PENULISAN KARYA TULIS DAN LOMBA KARIKATUR Pelajar SMA/sederajat Tk. Nasional- FAMILY AND CONSUMER EXPO 2008 »


Lomba Cerpen dan Puisi - Pujangga 2008

5 November 2008 – 17:09

Dalam rangka memperingati Dies Natalis IPB ke-45, BEM FEM produly presents Pujangga 2008 featuring: Sepena (Seruan Penulisan Mahasiswa dan Pelajar).

Tema: Love, Life, and Laugh. including:
Alur (Ajang Tulis Puisi Kreatif)
Scene (Seruan Tulis Cerpen) Juri: Anggota Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia Hadiah: Jutaan Rupiah + Trophy + Sertifikat Ketentuan Lomba:

Peserta adalah pelajar SMA dan mahasiswa yang berusia antara 15-22 tahun

Peserta menyertakan [...]

Share

Temans, mari ikuti Infolomba di Twitter atau Infolomba di Plurk. Tetap semangat!

Dalam rangka memperingati Dies Natalis IPB ke-45, BEM FEM produly presents Pujangga 2008 featuring: Sepena (Seruan Penulisan Mahasiswa dan Pelajar).

Tema: Love, Life, and Laugh.

including:
Alur (Ajang Tulis Puisi Kreatif)
Scene (Seruan Tulis Cerpen)

Juri: Anggota Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia

Hadiah: Jutaan Rupiah + Trophy + Sertifikat

Ketentuan Lomba:

  1. Peserta adalah pelajar SMA dan mahasiswa yang berusia antara 15-22 tahun
  2. Peserta menyertakan biodata pribadi pada karyanya
  3. Boleh mengirim lebih dari 1 (satu) karya untuk cerpen maupun puisi atau keduanya
  4. Cerpen dan puisi yang telah masuk ke panitia menjadi milik Pujangga 2008
  5. Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak, mengikat, dan tidak dapat diganggu gugat
  6. Naskah diterima oleh panitia paling lambat 30 November 2008
  7. Pengumuman pemenang akan diberitahukan pada smeinar Pujangga Wordtainment tanggal 21 Desember 2008

Sistematika Penulisan:
A. Cerpen

  1. Diketik rapi pada kertas A4, menggunakan font Arial ukuran 11, spasi 1, judul cerpen di-bold
  2. Menggunakan margin kiri 4 cm, dan kanan, atas, bawah 3 cm
  3. Banyak naskah maksimal 7 halaman
  4. Tidak menyinggung SARA dan pornoaksi atau pornografi

B. Puisi

  1. Diketik rapi pada kertas A4, menggunakan font Arial ukuran 11, spasi 1, judul cerpen di-bold
  2. Menggunakan margin kiri 4 cm, dan kanan, atas, bawah 3 cm
  3. Panjang maksimal 1 halaman
  4. Jenis puisi bebas
  5. Tidak menyinggung SARA dan pornoaksi atau pornografi

Mekanisme Pengiriman:

  1. Peserta mengisi form pendaftaran dari panitia. Form dapat diperoleh melalui website Pujangga, roadshow, dan sekretariat {ujangga 2008
  2. Karya dan form pendaftaran dapat dikirimkan melalui:
  3. Naskah hardcopy dan bukti pembayaran dimasukkan ke dalam amplop coklat yang dituliskan lomba yang diikuti di pojok kiri atas dan dikirim ke alamat Pujangga 2008:
    • Sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa
    • Fakultas Ekonomi dan Manajemen
    • Institut Pertanian Bogor
    • Wing Rektorat 1 Bogor 16680
  4. Softcopy dikirimkan melalui website Pujangga 2008
  5. Uang pendaftaran sebesar Rp 10.000 (yang akan dipergunakan untuk mensukseskan acara College Social Responsibility Pujangga 2008) dapat ditransfer melalui rekening Pujangga 2008:

Mardiyati
BNI Cabang Bogor
nomor rekening 013 676 3537

Pujangga 2008 Events

  • Roadshow (Oktober – November 2008) di 18 SMA di wilayah Jabodetabek
  • CSR (College Social Responsibility) 6-7 Desember 2008, SDN Cibadak 1 dan Panti Asuhan Tarbiyatul Yatamah
  • Expo (14-20 Desember 2008), Grha Widya Wisuda (GWW) Kampus IPB Darmaga
  • Pujangga Wordtainment, 21 Desember 2008, Ruang Istana Ballroom, Hotel Salak, Bogor

Contact Us:
Dewi: 0852 24080571
Dessy: 0856 8149251
or
pujangga2008@ymail.com
www.pujangga-ipb.com

Googling segera! Cari dan temukan materi terkait lomba! Semangat ya!
Google
  1. 13 Responses to “Lomba Cerpen dan Puisi - Pujangga 2008”

  2. di kirim lewat e-mail boleh ga?

    oleh lasmi pada 13 Nov 2008

  3. maaf, apakah betul Menggunakan margin kiri 4 cm, dan kanan, atas, bawah 3 cm ??? maksudnya disana bagaimana ya ? rasanya kok aneh ?

    oleh fiza pada 14 Nov 2008

  4. maaf, apa benar pada syarat2 ketentuan di cerpen menggunakan margin kiri 4 cm, dan kanan, atas, bawah 3 cm ? kok rasany aneh ya ?
    mohon balasannya !

    oleh fiza pada 14 Nov 2008

  5. GERAKAN SENI TRADISI /SENI DAERAH BUDAYA LOKAL

    Tari Gambyong 1.000 Penari (1)
    Tak Semua Sekolah Izinkan Siswanya
    Jalan Mayor Kusmanto dan halaman gedung bekas Brigir 6 Surakarta tidak seperti biasanya yang ramai didatangi orang. Ya, Minggu lalu, kawasan tersebut mencatat peristiwa penting yakni pergelaran kesenian tradisional Tari Gambyong 1000 Penari. Kelangkaan seperti itu barangkali yang membuat kegiatan tersebut tercatat di museum rekor Indonesia (Muri). Berikut laporannya.
    MESKI didukung banyak pihak, ‘’perjalanan’’ untuk menggolkan kegiatan Tari Gambyong 1.000 Penari ternyata tidak selancar yang dibayangkan. Adalah Heru ‘’Mataya’’ Prasetyo selaku pelaku pelestarian warisan budaya di Solo yang mencetuskan ide kegiatan tersebut.
    Heru menyebut prakarsanya itu semata-mata untuk merayakan Hari Tari Internasional 2007 yang dititikberatkan pada ajakan untuk memasyarakatkan tari di kalangan anak-anak. Dia kemudian mengajak kalangan guru tari dan pemerhati kesenian tradisional untuk bersama-sama merayakan hari khusus tersebut dengan sebuah kegiatan akbar. Ajakan tersebut ternyata mendapat sambutan baik.
    Paguyuban Guru Tari Indonesia (Pagutri) Solo bersedia diajak bekerja sama untuk mewujudkan gagasan tersebut. ‘’Hanya sekitar satu bulan persiapannya, sejak ajakan itu dilontarkan Mas Heru kepada Pagutri,’’ ujar Ketua Pelaksana Gambyong 1.000 penari, Maya Heni Kuswardani SSen.
    Pertemuan dengan anggota Pagutri pun dilakukan. Ternyata ajakan itu juga disepakati para guru tari. ‘’Memang tidak semua guru tari terlibat karena sekolah tidak memberikan dukungan. Dari 70 anggota, yang mengikuti rapat hanya 20 orang. Untung mereka bisa mewakili lima kecamatan.’’
    Tak Mudah
    Meskipun sudah diwadahi dalam paguyuban, bukan berarti para guru itu dengan mudah mengajak murid-murid yang dididik di sekolahnya. Demikian pula SD tempat guru itu mengajar, belum tentu memberikan izin muridnya terlibat.
    Seperti diungkapkan Retno Utami, guru tari SDN Sumber IV yang menjadi koordinator lapangan (korlap) Kecamatan Banjarsari. Untuk mendukung kegiatan tersebut dia mengajak guru tari di wilayahnya. ‘’Banjarsari menyertakan 249 siswa dari sekitar 30 SD. Di luar yang dikoordinasi Pagutri, ada penari lain yang datang sendiri.’’
    Ada SD yang memberikan dukungan dengan menyertakan siswanya ikut menari. Namun dukungan itu memang terbatas hanya untuk menyertakan siswanya. ‘’Tapi bagi kami, siswa bisa diberi izin bisa ikut saja sudah terima kasih. Syukur ada bantuan dana. Yang juga menggembirakan dukungan dari orang tua murid.’’
    Rini Kristinawati, guru tari SDN Yosodipura yang juga korlap Kecamatan Laweyang mengatakan, meski penari yang diajak hanya 172 orang terdiri atas murid SD dan guru tari, ada juga siswa SMA dan SMK yang ikut bergabung.
    ‘’Namun ada juga kepala sekolah yang masih menanyakan manfaat kegiatan itu. Padahal kegiatan seperti itu juga merupakan sarana pendidikan bagi siswa, apalagi anak-anak sangat antusias,’’ katanya.
    Permainan egrang. (Ist)
    Selasa, 29 Juli 2008
    Permainan tradisional atau dolanan anak-anak saat ini sudah nyaris punah di hampir seluruh daerah Indonesia, khususnya Kota Solo. Hampir punahnya dolanan anak tersebut salah satunya karena adanya anggapan bahwa permainan tradisional tidak layak dalam pola kehidupan modern.
    Permainan tradisional seperti egrang, njuktali-njuk emping, cublak-cublak suweng, gobak sodor, ndhog-endhogan, uri-uri, jelungan, jamuran, soyang serta nini dhok nini tjowong hampir tidak pernah lagi ditemukan dalam permainan anak-anak. Oleh karena itu, agar dolanan anak tersebut tidak betul-betul punah, perlu ada upaya serius untuk melestarikannya. Salah satu upaya yang dilakukan Solo ialah menggelar Festival Dolanan Anak pada 10 Agustus mendatang.
    “Padahal, di dalam dolanan anak itu banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Seperti kesopanan, rasa menghargai, serta rasa menghormati. Sebab, dalam permainan tradisional ada aturan yang harus diikuti,” kata Yahya Assegaf, Ketua Lembaga Sangga Buana Surakarta sebagai penyelenggara festival, kepada wartawan, Jumat (25/7). Festival itu bertujuan untuk menghidupkan kembali dolanan anak yang sudah hampir punah.
    Festival tersebut akan diikuti sekitar 500 anak mulai TK hingga SD di wilayah Surakarta. Festival yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Solo dan Paguyuban Guru Tari Indonesia (Pagutri) tersebut juga akan menampilkan perlombaan permainan tradisional seperti egrang serta lagu dolanan anak. Selain itu juga akan ditampilkan pementasan nini dhok nini thowok.
    “Melalui permainan tradisional ini, diharapkan akan lahir salah satu solusi untuk kembali menumbuhkan rasa bangga anak-anak Indonesia atas budayanya sendiri,” katanya lagi.
    Menurutnya pula, lagu dolanan anak sebenarnya tidak hanya sekadar lagu untuk mengiringi sebuah permainan, tetapi juga memiliki makna serta nasihat.

    Untuk menghidupkan kembali permainan tradisional yang hampir punah karena kalah bersaing dengan permainan tradisional, maka Pemerintahan Kota Solo akan menggelar beberapa acara, diantaranya melalui Festival Dolanan Tradisional Jawa, tanggal 10 Agustus 2008 di Halaman Balai Kota Surakarta.
    Jenis dolanan yang akan ditampilkan yaitu jenis dolanan tradisional seperti egrang, gobaksodor, endhog-endhogan, jamuran dimana itu semua adalah nama-nama dolanan tradisional yang sudah mulai dilupakan. KRT Sayid Yahya Asagaf Hadiningrat mengatakan bahwa “Inilah persoalan penting dari perilaku anak yang akhirnya berubah. Hilangnya budaya isin dan eling. Wong Jawa ilang Jawane,”.
    Acara ini akan di digelar oleh Lembaga Sangga Buana Surakarta yang banyak bergerak dalam bidang kesenian Jawa. Dalam membangkitkan kembali dolanan tradisional Jawa, Lembaga Sangga Buana Surakarta telah mulai mengadakan workshop dengan tema Revitalisasi Budaya Jawa di Era Globalisasi yang diselenggarakan di Hotel Sahid Kusuma, tanggal 22 Juli 2008 lalu.
    Sementara, lomba dolanan tradisional anak dan pementasan Nini dhok nini thowok pada tanggal 10 Agustus 2008 nanti bersamaan pada festival tersebut siap menghidupkan kembali budaya dolanan anak dengan harapan bisa diteruskan ke kota-kota lain di Jawa Tengah khususnya. Untuk menggelar acara ini Lembaga Sangga Buana Surakarta bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Olahraga Surakarta, Paguyuban Guru Tari Surakarta.
    Festival ini sasaran pesertanya yaitu anak-anak Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar (SD). Melalui kegiatan ini diharapkan bisa membangkitkan kembali dolanan anak-anak yang sudah hampir hilang di telan modernisasi budaya barat. Kurang lebih 500 anak dari tingkat TK dan SD yang terbagi dalam 50 kelompok bermain akan unjuk apresiasi, memainkan dolanan dalam satu gerak dan lagu anak. Dan dapat dipastikan bahwa acaranya pasti akan berlangsung sangat meriah.
    Permainan Tradisional
    Solo Gelar Festival di Dolanan Anak
    Komentar :
    Permainan egrang. :
    Permainan tradisional atau dolanan anak-anak saat ini sudah nyaris punah di hampir seluruh daerah Indonesia, khususnya Kota Solo. Hampir punahnya dolanan anak tersebut salah satunya karena adanya anggapan bahwa permainan tradisional tidak layak dalam pola kehidupan modern.
    Permainan tradisional seperti egrang, njuktali-njuk emping, cublak-cublak suweng, gobak sodor, ndhog-endhogan, uri-uri, jelungan, jamuran, soyang serta nini dhok nini tjowong hampir tidak pernah lagi ditemukan dalam permainan anak-anak. Oleh karena itu, agar dolanan anak tersebut tidak betul-betul punah, perlu ada upaya serius untuk melestarikannya. Salah satu upaya yang dilakukan Solo ialah menggelar Festival Dolanan Anak pada 10 Agustus mendatang.
    “Padahal, di dalam dolanan anak itu banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Seperti kesopanan, rasa menghargai, serta rasa menghormati. Sebab, dalam permainan tradisional ada aturan yang harus diikuti,” kata Yahya Assegaf, Ketua Lembaga Sangga Buana Surakarta sebagai penyelenggara festival, Festival itu bertujuan untuk menghidupkan kembali dolanan anak yang sudah hampir punah.
    Festival tersebut akan diikuti sekitar 500 anak mulai TK hingga SD di wilayah Surakarta. Festival yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Solo dan Paguyuban Guru Tari Indonesia (Pagutri) tersebut juga akan menampilkan perlombaan permainan tradisional seperti egrang serta lagu dolanan anak. Selain itu juga akan ditampilkan pementasan nini dhok nini thowok.
    “Melalui permainan tradisional ini, diharapkan akan lahir salah satu solusi untuk kembali menumbuhkan rasa bangga anak-anak Indonesia atas budayanya sendiri,” katanya lagi.
    Menurutnya pula, lagu dolanan anak sebenarnya tidak hanya sekadar lagu untuk mengiringi sebuah permainan, tetapi juga memiliki makna serta nasihat.
    Saat ini permainan tradisional anak-anak di Pulau Jawa sudah banyak yang punah. PermainanTradisional seperti egrang, cublak-cublak suweng, dan gobak sodor hamper tidak pernah lagi ditemukan dalam permainan anak-anak. Kepunahan itu disebabkan munculnya berbagai permainan modern sehingga permainan tradisional anak-anak kalah bersaing.
    Nah, agar permainan itu tidak betul-betul punah, perlu ada upaya untuk melestarikannya. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah Solo, Jawa Tengah, adalah menggelar “Festival Dolanan Tradisional”. Kegiatan yang diikuti ratusan siswa SD di Solo itu, digelar di halaman Balai Kota Solo, Selasa malam (12/8).
    Festival itu digelar untuk menumbuhkan dan melestarikan permainan anak-anak tradisional yang mulai ditinggalkan. Selain menyajikan lomba berbagai permainan tradisional Jawa seperti egrang, dalam acara itu juga dipentaskan “Nini Dhok Nini Thowok atau Jelangkung” ala Jawa.
    Banyak Pelajaran yang Diambil
    Sebenarnya, dari permainan tradisional itu banyak pelajaran yang bisa diambil, antara lain kesopanan, saling menghargai, dan menghormati sesama. Sebab, dalam permainan itu ada aturan yang harus diikuti. Lain hal dengan permainan modern yang saat ini lebih banyak digemari oleh anak-anak. Permainan video game misalnya, kebanyakan sarat dengan kekerasan dan berdampak pada kemalasan.
    FESTIVAL DOLANAN ANAK-ANAK DI SOLO

    Permainan tradisional untuk anak-anak di Jawa sekarang ini sudah banyak yang punah, karena kalah bersaing dengan permainan modern dan ini perlu dihidupkan kembali.
    “Untuk menghidupkan kembali permainan tradisional ini akan dicoba melalui Festival Dolanan Tradisional Jawa, tanggal 10 Agustus 2008 di Halaman Balai Kota Surakarta,” kata Ketua Lembaga Sangga Buana Surakarta (LSBS) Yahya Assegaf di Solo, Jumat.
    Lembaga Sangga Buana Surakarta yang banyak bergerak dalam bidang kesenian Jawa ini, dalam membangkitkan kembali dolanan tradisional Jawa, telah dimulai mengadakan workshop dengan tema Revitalisasi Budaya Jawa di Era Globalisai.
    “Kami telah mengadakan workshop untuk mengawali menghidupkan kembali dolanan tradisional Jawa di Hotel Sahid Kusuma, tanggal 22 Juli 2008, yang bertemakan Revitalisasi Budaya Jawa di Era Globalisasi,” katanya.
    Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan lomba dolanan tradisional anak dan Pementasan Nini Dhok Nini Thowok tanggal 10 Agustus 2008 bersamaan pada festival tersebut.
    Untuk menggelar acara ini Lembaga Sangga Buana Surakarta bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Olahraga Surakarta, Paguyuban Guru Tari Surakarta.
    Festival ini sasaran pesertanya anak-anak Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar (SD). Melalui kegiatan ini diharapkan bisa membangkitkan kembali dolanan anak-anak, katanya. 2
    Lagu dolanan anak-anak di seluruh Indonesia khususnya di Solo, bisa dikatakan hampir punah. Anak-anak pun hampir tidak memiliki ruang untuk berkumpul dan dolanan bareng.
    Demikian dikemukakan Ketua Lembaga Sangga Buana Surakarta, KRT Sayid Yahya Asagaf Hadiningrat, kepada wartawan di Hotel Sahid Kusuma Solo, Selasa (22/7).
    Ia merasa prihatin atas terkikisnya budaya tradisi yang mampu membentuk karakter seseorang. “Dulu, Indonesia terkenal dengan julukan The Smiling People, bangsa yang dikenal sangat ramah dan murah senyum. Bisa dipastikan, watak dan kepribadian seseorang ini dipengaruhi lingkungan,” terangnya.
    Sehingga, tambahnya, upaya memperbaiki kepribadian bangsa bisa dimulai dari anak-anak. Dengan ini, Lembaga Sangga Buana Surakarta bekerja sama dengan Paguyuban Guru Tari Surakarta (Pagutri) menggelar Festival Dolanan Tradisional Jawa.
    Festival ini meliputi acara workshop dengan tema Revitalisasi Budaya Jawa di Era Globalisasi “Ya, Aku Bocah Jawa”, Selasa (22/7) dan Lomba Dolanan Tradisional Anak dan Pementasan Nini Dhok Nini Thowok di Balaikota Solo, Minggu (10/8) mendatang.

    oleh JITO pada 15 Nov 2008

  6. kak,gimana klu karya kita dah dikirim melalui email dan pos.tp,bukti pembayaran pemdaftaran nya kelupaan di tarukkan dalam amplopnya,gimana neh.dyah bsk rencana’a mw ke bank.apa gak apa2 kita cuma kirim bukti pembayaran pendaftaran aja,tp karya kita gak usah dikirim lg.bls ya kak… makasih sebelumnya

    oleh dyah pada 18 Nov 2008

  7. coba simak penggunaan kata2 yang tidak pada tempatnya seperti:
    proudly presents, featuring, scene, including, trophy, Love, Life, and Laugh.

    kata2 asing ini yang dipakai dengan centang perenang oleh panitianya ini, kayaknya memang dipakai sekedar buat gaya-gayaan.

    jujur saja buat saya ini mengkhawatirkan,
    masak sebuah ajang sastra,
    digelar dengan cara merusak bahasa Indonesia.

    oleh radnanakyara pada 20 Nov 2008

  8. kok,umurnya dibatasi ya. jadi nggak bisa ikut berpartisipasi.

    oleh nur a septiani pada 23 Nov 2008

  9. ehm..kok gak da lomba ngarang novel cih…........
    banyak yang ngantri loh…
    mkcihhhhh

    oleh yuni anggraeni pada 26 Nov 2008

  10. mungkin klo dibuka untuk peserta umum enak juga kali yah

    oleh ISMA pada 4 Dec 2008

  11. nP umur dibatasi ???
    Kan pasti banyak yg ingin b’partisipasi
    tp kepentok ma umur.

    or adain dhunk perkategori…

    Cheers “Threezta”

    oleh Threezta pada 26 Dec 2008

  12. kak pengen tanya siapa aja pemenang lomba PUJANGGA 2008 kemaren… umumin di internet juga dong, biar yg kemaen gak bisa datang juga bisa tau

    oleh Ayunda pada 28 Dec 2008

  13. EeeeeehHMMMMMMMMM….......

    oleh ocHi CuTe pada 6 May 2009

  14. ni lomba tiap tahunya ada terus nda cich….. coz aku suka banget buat cerpen ma puisi, tapi cuma bisa ku nikmari ndiri doank,,, abis ku baca ni pengumuman telat….. gimana….????? bales… thanks

    oleh yoo-niE wopy pada 11 Oct 2009

Kirim komentar